Anak Tukang Masakan Jadi Ketua PWI

KNGInfo.com – Siapa sangka, ternyata pucuk pimpinan organisasi profesi kewartawanan tertua di wilayah Kabupaten Kuningan Iyan Irwandi S.IP., yang dipercaya menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia ( PWI ) selama dua periode bukan keturunan orang berada. Serta berpendidikan tetapi dari kalangan keluarga yang kurang mampu.

Ia yang dibesarkan di Desa Kalapagunung Kecamatan Kramatmulya, merupakan anak pertama dari pasangan Maman Surachman yang berprofesi sebagai sopir. Dan Almarhumah Onah Saonah yang menjadi tukang masakan. Sehingga ketika masa kecilnya, banyak digembleng dan diarahkan untuk terus bekerja keras.

Misalnya, ketika pagi dinihari ia harus berbelanja berbagai bahan menu masakan berdasarkan catatan yang telah diberikan oleh sang ibu. Ia harus berjalan kaki sejauh 700 meter dari rumah ke pasar kramatmulya atau lebih dikenal dengan sebutan pasar krucuk. Pulang belanjapun tidak naik ojeg, tetapi lebih memilih berjalan kaki lagi sambil memanggul barang belanjaan.

Sesampainya dirumah, barang belanjaan tadi diolah menjadi berbagai menu masakan oleh sang ibu yang memang memiliki keahlian memasak. Termasuk goreng ayam bumbu kelapa dan gorengan tempe kuning dan gemet. Lalu, oleh Iyan Irwandi dan beberapa adiknya dijajakan kepada tetangga-tetangga yang berada di daerah terdekat dari mulai pukul 05.30 WIB sampai pukul 06.30 WIB.

Setelah itu, barang dagangan tersebut dilanjutkan dijual oleh sang ibu ke daerah Desa Kalapagunung dan beberapa desa tetangga. Seperti Cibentang, Gandasoli, Ragawacana, Jalaksana, Kramatmulya, Cikaso dan daerah lainnya. Hal tersebut dikarenakan Iyan Irwandi bersama adik-adiknya harus berangkat kesekolah.

Berdasarkan data, Iyan Irwandi tercatat sebagai lulusan SDN 1 Kalapagunung Kecamatan Kramatmulya Tahun 1992, lulusan SMPN 7 Kuningan tahun 1995 dan lulusan SMAN 3 Kuningan tahun 1998. Setelah bekerja dan juga berumah tangga, ia baru melanjutkan kuliah di Universitas Muhammadiyah Cirebon ( UMC ) sehingga akhirnya lulus pada tahun 2012.

Namun dibalik sulitnya kehidupan semasa kecil, ia tidak menyesali tetapi bersyukur karena sebenarnya orangtua sayang akan dirinya. Secara tidak langsung telah diajarkan berusaha mandiri, jangan merasa malu terhadap usaha yang dilakoni asalkan halal. Belajar berkomunikasi melalui berjualan, bekerja keras dan juga sebagainya.

” Saya bangga dengan orang tua terutama almarhumah ibu karena ia telah mengajarkan dan mengarahkan agar mampu menjalani kehidupan nyata. Bahkan ia pun mencontohkan langsung dengan berjualan untuk membantu meringankan beban suami supaya kebutuhan keluarga dapat terpenuhi. Untuk itu, almarhumah ibu merupakan orang yang paling berjasa dalam pembentukan karakter kehidupan saya,” tuturnya yang kini tinggal di Perum Korpri Kelurahan Cigintung Kecamatan Kuningan.