Asal Mula Nama Kuningan

KNGInfo.com – Selaku warga kuningan mungkin kebanyakan tidak mengetahui dari mana asal muasal nama kuningan. Disini saya akan mencoba menjelaskan asal mula nama kuningan menurut beberapa versi yang sudah berkembang dan dipercaya warga masyarakat kuningan. Semoga apa yang saya tulis ini bisa menambah pengetahuan warga kuningan mengenai asal mula nama kuningan.

Foto logo kabupaten kuningan

Berikut penjelasannya yang diperoleh dari beberapa versi :

1. Nama Kuningan Berasal Dari Nama Logam Kuningan

Dalam bahasa sunda ( bahasa indonesia ), kuningan adalah sejenis logam yang terbuat dari bahan campuran berupa timah, perak dan juga perunggu. Apabila disepuh, logam ini akan mengkilap seperti emas. Logam ini biasanya digunakan untuk membuat berbagai benda seperti bokor, kerangka lampu serta hiasan dinding.

Didaerah Sangkanherang, Jalaksana, sebelum 1941 ditemukan beberapa patung yang terbuat dari kuningan. Dan hingga tahun 1950an barang-barang yang terbuat dari kuningan sangat diminati oleh kaum elit kuningan.

2. Nama Kuningan Berasal Dari Nama Daerah Kajene

Menurut tradisi lisan legenda kuningan, awalnya daerah kuningan bernama kajene. Dimana arti dari “kajene” itu sendiri adalah warna kuning ( jene dalam bahasa jawa berarti kuning ). Namun nama kajene sendiri sebagai nama awal daerah kuningan diragukan. Menurut naskah Carita Parahiyangan ( sumber tertulis yang disusun di ciamis pada akhir abad ke 16 ), kuningan sebagai nama daerah ( kerajaan ) sudah dikenal sejak masa awal kerajaan galuh, yakni sejak akhir abad 7 atau awal abad ke 8M.

3. Nama Kuningan Berasal Dari Nama Ajian ” Dangiang Kuning “

Ajian ” dangiang kuning ” dimiliki oleh demunawan. Demunawan sendiri adalah seseorang yang pernah menjadi raja di kuningan pada masa awal kerajaan galuh.

4. Nama Kuningan Berasal Dari Legenda Bokor Kuningan

Dimana ada dua versi mengenai legenda bokor kuningan ini :

a. Dalam cerita ciung wanara di daerah ciamis pra-islam, sebuah bokor digunakan untuk menguji kesaktian seorang pendeta galuh yang bernama Ajar Sukaresi yang bertapa di gunung padang. Pendeta ini diminta oleh raja galuh ( beribukota di bojong galuh, sekarang namanya karangkamulyan ) untuk menakris perut putrinya yang buncit. Apakah sedang dalam keadaan hamil atau tidak, jika salah taksir maka pendeta tersebut akan dihukum mati. Dimana hal ini hanyalah siasat sang raja, buncitnya perut sang putri karena sudah dipasangi bokor kuningan. Yang ditutupi oleh kain sehingga tampak seperti sedang mengandung. Siasat ini dilakukan untuk mencelakai sang pendeta.

Ajar Sukaresi kemudian menaksir bahwa sang putri sedang dalam keadaan hamil. Raja sangat gembira karena sang pendeta telah salah taksir dan kemudian memerintahkan sang pendeta untuk dihukum mati. Namun, ternyata sang putri benar-benar dalam keadaan hamil. Sang raja marah dan dengan spontan menendang bokor kuningan, kuali dan penjara besi yang berada disekitar istananya.

Foto tugu bokor kuningan

Bokor tersebut jatuh didaerah utara, didaerah kuningan. Daerah ini kemudian dinamai kuningan yang terus berlanjut hingga saat ini. Kuali juga jatuh diutara, hanya lebih dekat. Daerah tempat jatuhnya kuali kemudian dinamai kawali ( bahasa sunda dari kuali ) termasuk ke daerah Ciamis. Sedangkan penjara besi jatuh disebelah barat, daerah ini kemudian dinamai kandangbesi ( bahasa sunda dari penjara besi ) nama daerah di garut selatan.

b. Dalam babad cirebon dan tradisi legenda kuningan, bokor tersebut digunakan untuk menguji sunan gunung jati pada masa islamisasi. Jalan ceritanya hampir sama dengan jalan cerita ciung wanara. Dimana perbedaannya adalah waktu, tempat, tujuan dan akibat dari pengujian tersebut. Serta tidak adanya penendangan bokor. Namun cerita ciung wanara jauh lebih tua daripada cerita yang ini.

Legenda ini terjadi di luragung, ( nama kecamatan didaerah kuningan timur ). Tujuan pengujian ini hanya untuk menguji keluruhan ilmu sunan gunung jati. Anak yang lahir adalah anak laki-laki yang kemudian dibesarkan oleh ki gedeng luragung, penguasa luragung. Sunan gunung jati yang merupakan sultan cirebon kemudian mengangkat anak tersebut menjadi pimpinan kuningan dengan gelar sang adipati kuningan.

Hal inilah yang menjadikan bokor sebagai salah satu lambang kuningan, selain kuda yang merupakan kuda sembrani bernama Si Windu milik Dipati Ewangga, seorang panglima perang kuningan.

foto patung kuda sembrani di area taman kota kuningan

5. Nama Kuningan Berasal Dari Sistem Kalender Hindu

Dalam sistem kalender hindu, terdapat siklus waktu upacara keagamaan seperti yang masih dipakai oleh umat hindu di bali. Kuningan menjadi nama waktu ke-12 dalam sistem kalender tersebut. Pada periode wuku ( waktu ) kuningan selalu diadakan upacara keagamaan sebagai hari raya. Konon, nama wuku kuningan mengilhami atau mendorong pemberian nama pada daerah ini.

Perlu Diingat !!

Pelantikan adipati kuningan terjadi pada 4 muharram. Dalam penanggalan masehi, tanggal ini bertepatan dengan 1 september 1948. Dimana sejak 1978 tanggal pelantikan ini ditetapkan sebagai hari jadi kuningan.

Pada 1527, pasukan kuningan diikutsertakan dalam penyerangan ke sunda kelapa ( saat ini jakarta ) bersama pasukan cirebon dan demak. Pasukan kuningan dipimpin oleh dipati ewangga yang juga mempunyai julukan dipati cangkuang ( karena menetap di daerah cangkuang ). Dipati Ewangga dan pasukannya ada yang terus menetap di sunda kelapa. Mereka kemudian memilih daerah agak kedalam dari pelabuhan sebagai tempat tinggal. Di daerah yang sekarang disebut kuningan, di jakarta selatan.

Sumber :

Buku sejarah kuningan Dari masa prasejarah hingga terbentuknya kabupaten.

Karya Prof. Dr. Edi S. Ekadjati

Tahun 2003