Bibit Berkualitas Dimanfaatkan Unit Bisnis Royal Golden Eagle Untuk Meningkatkan Produksi Kelapa Sawit

KNGInfo.com – Royal Golden Eagle (RGE) beroperasi di industri kelapa sawit dengan unit bisnis bernama Asian Agri. Sebagai korporasi, mereka ingin menggenjot peningkatan produksi. Salah satu langkah yang diambil ialah dengan pemanfaatan bibit berkualitas.

RGE lahir pada 1973 dengan nama awal Raja Garuda MasMereka merupakan korporasi yang menaungi sejumlah unit bisnis di beberapa industri berbeda. Selain Asian Agri, mereka punya unit bisnis lain yang bergerak di sektor pulp dan kertas, selulosa spesial, serat viscose, serta minyak dan gas.

Unit bisnis dari Royal Garden Eagle tidak hanya ada di Indonesia. Mereka tersebar hingga di Brasil, Tiongkok, Kanada serta Spanyol. Jangkauan yang luas itu semakin terlihat dengan ditambah jumlah karyawan yang mencapai 60 ribu. Selain itu, aset RGE juga sudah menembus angka 18 miliar dolar Amerika Serikat.

Asian Agri merupakan unit bisnisnya yang beroperasi di industri kelapa sawit. Mereka menjadi salah satu produsen crude palm oil terbesar di Asia. Per tahun, mereka menembus kapasitas produksi hingga satu juta ton.

Kemampuan itu ditunjang dari keberhasilan Asian Agri mengelola perkebunan seluas 160 ribu hektare yang dimiliki. Mereka mengoptimalkannya untuk mendapatkan bahan baku dengan beragam cara. Salah satunya ialah dengan memanfaatkan bibit berkualitas supaya hasil panen kelapa sawit optimal.

Bibit menjadi salah satu hal penting dalam perkebunan kelapa sawit. Pasalnya kelapa sawit merupakan investasi jangka panjang. Sesudah ditanam, kelapa sawit akan terus dirawat dikebun hingga 20 atau 25 tahun. Pohon akan terus menghasilkan.

Baru setelah itu, hasil panen akan menurun. Ini mengharuskan tanaman akan diganti dalam setiap 20 atau 25 tahun sekali. Momen ini dikenal sebagai masa peremajaan.

Karena termasuk investasi jangka panjang, bibit kelapa sawit yang berkualitas sangat menentukan. Sekali salah, hasil panen tidak akan optimal. Padahal perlu waktu hingga 20 tahunan untuk menggantinya dengan yang baru.

Sadar terhadap keuntungan bibit berkualitas, Asian Agri mengembangkan bibit bermutu. Mereka mengawalinya dengan mendirikan Asian Agri Oil Palm Research Station (OPRS) pada 1996 di kawasan Topaz. Oleh unit bisnis Royal Golden Eagle ini, OPRS diserahi tugas untuk melakukan segala upaya untuk memproduksi bibit unggul.

Setelah mengambil berbagai langkah, OPRS akhirnya mampu menghasilkan bibit unggul. Mereka menamainya sebagai Topas. Bibit ini yang kemudian ditanam di perkebunan-perkebunan Asian Agri supaya bisa menghasilkan panen yang optimal.

Sampai saat ini, OPRS telah menghasilkan empat jenis bibit Topaz, yakni Topaz 1, Topaz 2, Topaz 3 dan Topaz 4. Setiap jenis memiliki keunggulan khas Topaz yang berarti penting dalam peningkatan produksi.

Keunggulan pertama terkait dengan kecepatan berbuah kelapa sawit dari bibit Topaz. Biasanya butuh waktu sekitar tiga tahun bagi petani untuk dapat memanen kelapa sawit. Namun, berkat bibit Topaz, waktu panen dapat dipercepat, sehingga petani tidak perlu menunggu lama.

Dikatakan oleh Senior Breeder OPRS, Ang Boon Beng, tidak perlu satu tahun bagi kelapa sawit bibit Topaz untuk berbuah. “Bibit unggul Topaz mampu menghasilkan buah sesuai standar komersial secepat mereka berbunga, yakni pada sembilan hingga sepuluh bulan pertama sesudah ditanam di lapangan,” katanya.

Masa panen yang cepat ini jelas disukai petani. Tidak heran, Asian Agri gencar mensosialisasikan penggunaan Topaz pada masa peremajaan kepada para petani baik petani plasma maupun petani swadaya.

Mudah Dikembangkan

http://www.asianagri.com/id/bisnis-kami/bisnis-kami/topaz

Sumber : Asianagri.com

Masa panen yang cepat hanya satu keunggulan Topaz. Masih banyak kelebihan lain yang membuat Asian Agri mengoptimalkannya untuk meningkatkan hasil perkebunan. Satu contoh lain adalah mudah dikembangkan diberbagai jenis tanah.

Selama ini, jenis tanah yang cocok untuk berkebun kelapa sawit dibagi menjadi dua bagian besar. Pertama adalah tanah latosol. Didaerah tropis seperti Indonesia, tanah latosol bisa berwarna merah, coklat dan kuning. Jenis tanah ini terbentuk di daerah yang iklimnya juga cocok untuk tanaman kelapa sawit.

Selanjutnya tanah yang cocok kelapa sawit adalah tanah aluvial. Jenis tanah ini banyak ditemui di Sumatra. Namun, kesuburannya berbeda-beda sehingga terkadang tidak mendukung perkebunan kelapa sawit.

Dengan menanam bibit Topaz, para petani tidak perlu bingung lagi dengan kondisi tanah. Sebab, bibit yang dikembangkan oleh unit bisnis Royal Golden Eagle ini mudah dikembangkan di berbagai jenis tanah. Bahkan, Topaz bisa ditanam di tanah marginal sekalipun.

“Kami mampu mengembangkan bibit yang dapat beradaptasi dengan tanah dalam kondisi marginal yang kurang subur dan area basah yang dianggap kurang pas bagi perkebunan kelapa sawit,” ujar Ang.

Kelebihan itu jelas menarik hati para petani. Apalagi, Topaz memang terbukti memiliki hasil panen yang tinggi. Ini yang sudah dirasakan oleh Asian Agri. Hasil produksi mereka tetap terjaga dengan baik berkat panenan yang optimal di perkebunannya.

Perlu diketahui, Tandan Buah Segar (TBS) yang dihasilkan oleh bibit Topaz rata-rata seberat 5 hingga 6 kilogram. Padahal, dengan bibit kelapa sawit biasa, satu TBS biasanya hanya memiliki berat sekitar 3 kilogram.

Wajar jika akhirnya Asian Agri mampu menembus kapasitas produksi 1 ton crude palm oil setahun. Perkebunan yang dimilikinya mampu menghasilkan bahan baku yang dibutuhkan.

Topaz kemudian makin menarik ketika melihat beragam keunggulan lainnya. Dengan TBS yang jauh lebih berat, Topaz juga mampu menghasilkan TBS yang dalam jumlah yang lebih banyak. Akibatnya, hasil panen bisa menjadi berlipat-lipat.

Selain itu, bibit Topaz menghasilkan pohon yang tidak cepat tumbuh meninggi. Ini berguna sekali dalam proses pemanenan. Sebab, panen yang dijalankan bakal lebih mudah.

Berbagai kelebihan ini sangat mendukung popularitas Topaz. Tidak aneh kalau akhirnya Asian Agri menyebarkannya kepada umum. Para petani plasma ataupun swadaya diundangnya untuk menggunakan bibit yang mereka kembangkan tersebut.

Kini, sudah ada 130 juta lebih bibit kelapa sawit yang dipakai oleh umum. Unit bisnis Royal Golden Eagle tersebut telah mengirimkannya ke perkebunan besar, petani plasma dan petani swadaya di seluruh indonesia dan luar negeri.

Pihak yang menggunakan bibit Topaz akhirnya ikut menikmati keuntungannya. Salah satunya adalah petani plasma Asian Agri bernama Pawito Saring. Ia mengaku mendapat manfaat besar saat memilih Topaz untuk ditanam pada masa peremajaan. Masa panen menjadi jauh lebih cepat.

“Biasanya asaya perlu menunggu hingga lebih dari tiga tahun untuk bisa memulai panen. Namun, kini saya hanya perlu waktu 28 bulan dan saya sudah bisa melakukan pemanenan,” katanya.

Manfaat besar seperti ini jelas mendukung produktivitas petani. Asian Agri juga akan mendapat keuntungan. Maklum saja, 60 ribu hektare dari 160 ribu hektare lahan perkebunan yang dimilikinya dikelola oleh petani plasma seperti Pawito Saring. Selain itu, ada 31 ribu hektare perkebunan dari petani swadaya yang ikut menyuplai bahan baku. Kalau hasil panen mereka tinggi, unit binis Royal Golden Eagle itu mampu menjaga level kapasitas produksinya dengan baik.